RSS

Seindah Musim Semi

04 Mar

Cerita ini sebetulnya sudah saya tulis kira-kira sekitar pada tahun 2005 lalu, hanya saja belum sempat dilirik-lirik lagi. Insya Allah akan saya posting secara rutin setiap minggunya, semoga ada yang suka ya dan selamat mengikuti..!

by: maria ulfa azkahara


 

PART 1

SEPENGGAL KENANGAN

MASA KECIL

Hiruk pikuk bandara Sukarno – Hatta seakan tak akan ada  habis – habisnya. Para lelaki, wanita, anak – anak, bahkan sampai orang tua jompo pun ikut meramaikan hilir – mudik dan kesibukan di bandara nomor satu di Indonesia itu. Ada yang celingak – celinguk seperti sedang mencari atau menunggu seseorang, bersalaman, berpelukan, dengan celoteh – celoteh khas mereka masing – masing. Diantara kerumunan itu, tampaklah seorang laki – laki berperawakan sedang, berbadan tegap, berkulit putih, dengan mata yang sedikit sipit, dan   berambut kecoklatan yang juga ikut menoleh ke kanan – kirinya. Matanya yang sipit menjadi semakin terlihat sipit karenanya. Dia adalah Shin.

Shin. Cowok asli negeri sakura itu kali ini untuk ke  dua  kalinya menginjakkan kakinya kembali di bandara Sukarno – Hatta sejak pindah kembali ke tanah airnya, Jepang lima tahun yang lalu. Kalau bukan karena undangan sahabat dekatnya, Indra,  mungkin Shin tak akan bisa sampai ke sini lagi. masih terngiang di kepala Shin suara sang mama saat ia mengatakan akan berkunjung ke Indonesia dua hari yang lalu yang begitu keras menentang kepergiannya ini.

Shin maklum, “Ya.. mungkin papa dan mama tak ingin aku mengingat masa lalu yang penuh kepahitan waktu aku tinggal di kota ini dulu, atau khawatir luka lama waktu SMA itu  akan terbuka kembali, dan segudang alasan lainnya.” Shin menghibur diri.

Tapi beruntunglah! Shin berhasil membujuk papanya untuk bisa menghadiri acara surprise yang disiapkan Indra untuknya. Indra. Ya, Indra adalah teman sepermainan, sekaligus teman terdekat Shin waktu SMA, yaitu selama orang tua Shin pindah tugas ke Indonesia dulu, sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika Shin menginjak bangku kelas dua SMP.

Tak banyak yang Shin ingat tentang masa lalunya dan seluk – beluk kota ini. Mungkin karena kenangan – kenangan manis itu telah tertutup oleh kepahitan yang dialaminya. Hanya kepingan – kepingan kenangan dari surat – surat Indra yang hanya sering kali berkelebat di benak Shin dan menghiasi mimpi – mimpi Shin. Hanya dua kali surat Indra diterimanya. Dalam lembar surat itu Indra selalu mengingatkan Shin tentang kenangan mereka ketika ia tinggal untuk lima tahun di negeri ini, terutama ketika Shin baru pindah ke Indonesia.

Waktu itu.. umur Shin baru tiga belas  tahun, umur di mana seharusnya Shin puas bermain dengan teman – temannya di negeri sakura sana, berlomba – lomba mempersiapkan diri untuk mengumpulkan nilai-nilai terbaik untuk bekal masuk ke SMA favorit masing – masing, melewatkan liburan musim panas bersama teman –  teman sekolah, dan segudang kegiatan mengasyikkan lainnya. Tapi,  Shin malah terpaksa harus memilih untuk mengikuti orang tuanya pindah dari negeri sakura itu ke negeri asing ini, Indonesia.

Sebenarnya perumahan yang mereka tempati itu cukup ramai. Ramai dengan kesibukan mereka masing – masing. Tapi, tetap terasa sangat sepi dan asing. Tak ada teman bermain, tak ada yang bisa diajak bicara. Oh! Sungguh, Shin merasakan kerinduan yang amat sangat dengan rumah lamanya, dengan teman sepermainannya.

Sebetulnya – kata ibunya- beberapa kilo dari rumah mereka ada tempat perbelanjaan besar seperti di Jepang, yang disebut mall. Shin ingin sekali kesana, setidaknya mencari toko buku yang menjual kamus Jepang – Indonesia atau mainan impor  terbaru dari negerinya. Setidaknya main games akan menghilangkan kebosanannya. Tapi lagi – lagi Shin berpikir.  Teman saja ia belum punya untuk diajak bermain kesana, bagaimana mungkin ia hendak kesana? Naik mobil umum? Dengan uang yang tak ia mengerti? Satu Yen berapa rupiah ? Dan satu lagi problem yang yang dihadapi Shin, ia belum bisa berbicara dengan bahasa Indonesia!. Sementara orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing – masing. Shin menarik napas panjang, ia mulai berandai –andai, “Ah, seandainya saja papa dan mama datang ketika sekolah sudah mulai dan bukan pada waktu libur..”

Dalam keadaan bingung akhirnya Shin memutuskan untuk berkeliling di sekitar komplek saja dengan sepeda yang dua hari lalu baru dibelikan ayahnya. Sebentar – sebentar sepeda itu melaju dengan kencang, dan melambat jika ada hal – hal yang menarik perhatiannya.

Beberapa menit kemudian Shin melewati pertigaan jalan yang ia tidak tahu  akan berujung kemana. Kondisi jalanan itu memang cukup sepi, karena mungkin orang – orang sedang sibuk bekerja. Hanya beberapa ibu – ibu setengah baya yaang tampak asyik mengerumuni sayur – sayuran di sebuah gerobak. Sesekali tawa mereka terdengar riuh.

Tak jauh dari tempat para wanita itu mengerubung, terdapat taman bermain. Beberapa anak – anak kecil dan anak  seusianya tampak sedang asyik bermain. Beberapa anak perempuan yang yang ia taksir berumur sekitar enam tahunan tampak sedang sibuk dengan rumah barbie yang ada di tengah lapangan itu, sedangkan anak – anak lelaki sibuk dengan mobil – mobilan mereka.

Di sisi sebelah kanan taman itu terdapat lapangan bola. Di sanalah beberapa tampak anak seusianya sedang bermain bola. Shin menatap mereka sesaat, lalu memutar sepedanya dan melanjutkan acara jalan – jalannya kembali.

Setelah cukup lelah berkeliling, Shin akhirnya memutuskan untuk pulang. Dibelokkannya sepeda itu dengan asal dan dengan tetap memandang rumah – rumah yang dilewatinya dengan bosan. Sampai….

“BRAKK!!!”

Bunyi benturan dari arah samping jalan yang berlawanan dengannya membuatnya menoleh dan tersadar dengan posisi jalannya yang terlalu ke kanan. Sementara itu, tak jau dari sebelahnya, seorang anak tampak bersusah payah membangunkan sepedanya yang menabrak trotoar jalan. Pastilah anak itu menyingkir terlalu ke kanan karena menghindari menabrakku, pikir Shin dengan rasa bersalah.

Shin bingung. Ia memutuskan untuk turun dari sepedanya, menyandarkan sepeda itu dan berniat membantu, namun anak itu ternyata sudah berhasil bangkit dan menaiki sepedanya kembali. Hanya minta maaf yang terpikir oleh Shin. Shin bingung. But, how?

Shimpai shinai-de, Genki-dayo**.” Ucap sosok itu.

Kebingungan Shin bertambah lagi ketika sosok berkulit putih dan berbadan tegap itu mengucapkan kata – kata dalam bahasa Jepang kepadanya, meski terbata – bata, namun ia mengerti. Itu adalah kata dalam bahasa Jepang pertama yang ia dengar dari orang selain orang tuanya sejak pindah ke sini.

Namae  nante iu-no?” sambung sosok itu.

“Aoshima, Shin Aoshima.” Jawab Shin pendek.

Sosok di depannya itu mengulurkan tangannya, dan berkata,“Indra.” Ucapnya, Shin segera menyambut uluran tangan itu dengan agak canggung. Mereka berdua lalu kembali mengyuh sepeda masing – masing, tapi kali ini dengan amat pelan.

Dokkara kita-no?”

“Achi.” Shin menunjuk rumah bercat putih persis di ujung jalan di depan mereka berdiri.

Tanoshiku sasete ageru.” Ucap Indra sebelum berbelok menggiring sepedanya dan masuk ke rumah yang hanya berjarak dua rumah dari rumah yang tadi ditunjuk Shin.

Sejak itu Indra sering main ke rumah Shin, demikian juga sebaliknya. Indra menemani Shin kursus intensif bahasa Indonesia, sedangkan Shin mengajari Indra begitu banyak suku kata Jepang baru, mengajarinya membaca komik Detective Conan yang sangat digemarinya dalam versi aslinya,  menulis huruf kanji, tentang budaya Jepang, game – game baru, demikian juga sebaliknya, Indra mengajari Shin bahasa Indonesia dengan cepat, menyebut huruf el (L) dengan baik (tau kan Shin cadel el?), Sehingga dalam tiga minggu saja Shin langsung bisa bicara bahasa Indonesia dengan lumayan baik, walau masih terbata – bata..! Ajaib kan? Karena itu ketika masuk sekolah Shin tak begitu kesulitan lagi dalam berkomunikasi, dan kalaupun agak kesulitan Indra akan membantunya. Sedangkan dalam belajar (terutama pelajaran bahasa Indonesia), Indra selalu mengajari Shin di rumah seusai latihan bola, olah raga favorit Indra. Karena itu jugalah  akhirnya orang tua Shin memutuskan untuk memindahkan  Shin ke  yang sama dengan Indra.

Dua tahun kemudian…

Tak terasa dua tahun telah berlalu, artinya sekarang mereka sudah duduk di bangku SMA dan menjadi ABG (Anak Baru Gede). Persahabatan merekapun semakin erat dari hari ke hari, walaupun seringkali banyak yang mempertanyakan  tentang persahabatan mereka yang begitu akrab itu. bagaimana tidak? Meski seusia dan tumbuh seiring – sejalan, tapi Indra tidak seperti Shin. Indra anak yang supel, sehingga bisa bergaul dengan siapa saja, kenalan dengan siapa saja, entah itu di sekolah, rumah, atau di mall sekalipun. Prestasinya yang cemerlang dalam belajar, maupun olah raga membuatnya lebih menonjol dari murid lainnya. Satu lagi yang disukai Shin darinya, Indra selalu bicara terbuka, apa adanya, kadang kepede-an, atau bahkan terkadang terlalu blak – blakan. Tidak seperti Shin yang lebih memilih tak banyak bicara dan lebih suka memendam masalahnya sendiri. Shin tidak begitu suka dengan keramaian, kecuali Indra yang mengajaknya. Shin lebih suka membaca buku. Dan inilah yang membuat persahabatan mereka bertambah erat, berebut nilai tertinggi!.

Mungkin karena sikapnya yang pede itu juga Indra masih bisa berbicara sedikit dalam bahasa Jepang. Tapi bukan berarti Indra juga keturunan Jepang lho!.

Ayah Indra asli Sawah Lunto, sebuah kota kecil di Sumatera bagian barat, sedangkan ibunya betawi asli. Konon katanya ketika ayahnya Indra melamar, pihak dari ibunya Indra langsung diberi syarat. Kalau mau nikahin anak gw, lu kudu tinggal di sini, kaga’ boleh di jakarte,kagak boleh bawa anak gw ke Padang!, begitu kali ya bahasa kasarnya. Ya, jelas aja pihak ayahnya Indra juga menentang.. Untungnya, keluarga ayahnya Indra orangnya udah nggak terlalu terikat banget sama yang namanya adat sana dan agak fleksibel, jadi masih bisa dilobi (kayak deadlock sidang aza ada lobi-lobi.. J).

Akhirnya setelah lobi- melobi, keluarlah hasilnya, yaitu  wajib lapor, eh, wajib pulkam (pulang kampung) setahun sekali!. Kalau tahun ini lebaran di Jakarta, tahun besok harus di padang. Jadilah Indra bisa sedikit bahasa minang juga. Nah, kalau bahasa Jepangnya itu, dari Shin tahu dari ibunya Indra, kalau ternyata keluarga itu sempat tinggal tiga tahun di Jepang, waktu ayahnya Indra ditugaskan di sana (waktu itu Indra masih SD). Tapi, emang dasarnya Indra yang suka ceplas – ceplos dan kadang nggak peduli pakai bahasa apa, jadinya tuh bahasa nempel terus, padahal udah lebih dari lima tahun lho!

…………Bersambung ke part 2……………


 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: