RSS

Amplop Penyesalan

29 Jun

AMPLOP PENYESALAN

by; maria Ulfa Azkahara

 

“ Pak…cakit…akit paaak…”

“ Pak, pulang…..”

Suara rintihan bocah kecil belahan jiwaku selama empat tahun ini terus menggema di telingaku. Sosok kecil lemah akibat diserang demam  berdarah itu kini terbaring di bangsal ekonomi yang selalu padat dengan pasien berekonomi rendah di rumah sakit kecil di pinggir desa.

Hanya berangan – angan yang bisa kulakukan, Seandainya punya cukup gaji, tentunya aku akan membawanya kerumah sakit yang besar.. atau bahkan kalau perlu aku akan membawanya ke rumah sakit nomor satu.. seandainya..

Ah! Kenapa aku ini?

Kucoba merebahkan tubuh perlahan di atas tikar pandan lusuh yang mengalasi lantai rumah petak kecil itu. aku akan memejamkan mata barang sejenak, karena nanti malam aku akan bergantian menunggui si kecil dengan istri dan adik-adiknya. Namun lagi-lagi gaungan itu kembali bergema di telingaku….

“ Pak….mak….akit…..”

“ Aan mo pulang…..hik…hik… pak…pulang…”

Oh tidak! Kini gaungan itu semakin ramai dengan suara-suara lainnya, .menenggelamkan suara malaikat kecilku yang semakin lemah itu, semakin hilang…

“Mat, gw denger anak lo masuk rumah sakit. Sakit apaan?”

“Iya Pan., DBD.” topan adalah teman sepermainanku sejak kecil. Tapi nasib kami ternyata begitu berbeda. Bahkan sekarang kudengar ia sudah jadi caleg sebuah partai besar. Sedangkan aku, harus puas dengan pengahasilan pas-pasan, hanya untuk makan sekeluarga.

“Trus lo ada duit?”“ ada dikit Pan, tapi mungkin cuma untuk tiga hari ini aja” ingatanku kembali melayang ke kamar berdinding putih berseprei dekil and sumpek.

“Mau gw Bantu?” Topan menghisap rokoknya dalam – dalam.

“Bener Pan? makasih banyak…Pan!”

“Ya udah, ntar malem lo ke rumah gw.”

Dialogpun berakhir. Aku tersenyum dengan penuh terima kasih. Terbayang langsung di benakku, Aan. Aku akan membawa malaikat kecil itu ke rumah sakit di kota.

Sementara itu Topan memandangi punggung Mamat yang semakin menjauh dengan senyum penuh arti.

 

………………….

 

Mataku terasa sangat lelah, namun belum juga mampu kupejamkan. Peristiwa tadi malam kembali membekas di benakku. Semalam, aku  mendatangi rumah istana desa itu dengan membawa harapanku, kepada Topan.

Tak lama setelah mengetuk pintu, lelaki setengah baya yang amat akrab di masa kecilku itu keluar menemuiku. Amplop putih tergenggam di tangannya yang beberapa menit kemudian telah berpindah ke tangan kasarku. Maklum, aku bekerja sebagai kuli bangunan, makanya tangan-tanganku jadi kapalan dan kasar.

“Itu uang buat lu, sisanya lu bisa beli apa aja juga masih lebih.”

“Terima kasih Pan, kalau lu nggak membantu, aku nggak tahu lagi harus berbuat apa.”

“Sudahlah mat, gw Bantu lo apa aja..tapi lu jg bantu gw..”

“Bantu apa Pan?” bingung dan heran. Bantuan apa yang diharapkan orang kaya sepertinya dari orang miskin sepertiku?

“Gw Cuma minta suara lu sekeluarga aja kok, gampang kan?”

“Suara? Maksudnya?” Aku mulai bingung.

“Ha..ha.. mat, Lu jangan belagak nggak ngerti. saya Cuma minta suara kamu sekeluarga aja, elo, Istri, ibu bapak, dan adik-adik lu pas pemilihan nanti, gampang kan?”

Amplop putih dalam genggamanku seakan berubah menjadi bara api. Panas. Bagaimana mungkin desa ini akan di pimpin oleh orang yang mendewakan uang seperti Topan? Orang yang kerap kali justru membawa sumber maksiat? Yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta? Suara? Kami memang tak memiliki harta untuk membangun desa ini. Jangankan memberi orang lain, untuk makan sehari – haripun terkadang susah.. hanya suara itu yang kami punya untuk disumbangkan untuk desa ini.tapi sekarang…akankah kuserahkan harta kami satu – satunya  itu?

Kuangsurkan kembali amplop itu. Tanganku terasa bergetar.

“Sudahlah mat…gw tahu lu sangat butuh itu. Gw kan teman lu Mat. Pokoknya begitu gw kepilih, hidup lu akan baik Mat. Lu nggak usah nguli lagi, nanti gw kasih kerjaan. Gimana? “

“Tapi…Pan…” Aku ingin berontak! Tapi suaraku tersekat di tenggorokan. Tatapan Topan terasa semakin menghujamku, merongrong dinding hatiku.

“ Hm.. ok, begini saja, lu bawa saja dulu uang itu, sambil memikirkan tawaran gw tadi”

Aku mematung terdiam. Sosok sinar harapan di depanku tadi telah menjelma menjadi sosok srigala yang siap memangsa, lalu berubah lagi menjadi harapan – harapanku, demikian seterusnya. Aku tak bisa berkata-kata, kecuali tetap memegang amplop putih itu.

“Pesanku Cuma satu, ingat anak dan istri lu Mat, istri mana sih Mat yang nggak pengen hidup senang? Dengan anak yang sehat, hidup berkecukupan.. ingat, Ok?” Topan menepuk bahuku. Ingin rasanya aku menepiskan dan mematahkan tangan itu, tapi lagi – lagi tanganku tak bisa bergerak. Semua terasa berputar di kepalaku.

Anakku…uang itu….suara merdu istriku…anakku lagi…? terbayang di khayalnya sosok lincah anaknya yang bergembira ketika dibawakan mainan setiap minggu, atau bahkan setiap hari. Makanan enak. Tapi…semua kembali berputar-putar. Mengantar lelaki itu ke negeri mimpi. Pulas.

 

***********

 

Senja mulai menutup tirai siang. Dengan tergesa – gesa kujejakkan langkah di depan bangunan putih itu. Sesekali tanganku reflek merogoh kantong jaket, memastikan apakah amplop putih itu masih ada di sana. Tadi, beberapa saat setelah tertidur, pak Martoyo, lelaki separuh baya yang sudah belasan tahun menjadi tetanggaku itu membangunkanku.

Lastri, Istri yang baru beberapa tahun lalu kunikahi menelphon dan mengabarkan Anugrah, belahan hati kami bertambah parah dan lemah. Sedangkan pihak Rumah sakit tidak juga menangani karena resep-resep yang belum tertebus.

“ Mas… anak kita mas.. Anugrah…!” Tangis Lastri, perempuan yang kucintai itu menyongsong langkahku di depan kamar rumah sakit.

“Tenang dek, tenang… mas bawa uang banyak.. kita akan tebus resepnya. Mana resepnya dek?” Aku berusaha untuk melukiskan senyum di wajahku, sebelum akhirnya pudar ketika wanita yang biasanya tegar di hadapanku itu kini tertunduk lesu. Air mata menetes di pipinya.. Perasaan takut mulai menyelimutiku. Mungkinkah…?

“ A…a..ada a..pa dek?” tanyaku perlahan. Hatiku berusaha menepis semua prasangka buruk yang mulai meyelimuti hatiku.

Lastri tetap bungkam. Sepi sesaat, hanya hening mencekam, sampai akhirnya tangis perempuan itu meledak di pelukanku.

“Mas, anak kita telah pergi lima menit yang lalu…”

BUG!! Seakan ada palu tak terlihat memukul kepalaku. Lututku tak lagi bisa menyangga berat tubuhku. Kucoba mencari dinding untuk bersandar. Tanpa sadar tanganku dimasukkan ke dalam kantong jaket. Tanganku tampak menarik sesuatu dari kantong kumal itu. Amplop putih itu!

“Astaghfirullahal Adzhiim….” Desisnya terdengar lirih, sebelum semua terasa berputar. Gelap.

 

****end****

 

Depok, 21 Juni 2005 11.05pm

 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2011 in Amplop Penyesalan

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: