RSS

DILEMA TIGA DIARY*

09 Sep

Jakarta, 12 Februari 2004
Diary Pink, di bawah mentari pagi..
Hi my diary.. heran ya karena nggak biasanya aku nemuin kamu pagi – pagi begini. Udah rapi lagi dengan setelan kaos pink kalem and jeans,plus dengan tentengan jaket almamater!! Emang mau kemana sih? Shopping ? atau mau JJS ke mall? oh, No! aku hari ini mau berangkat aksi dy. Kata temenku siPutri, jilbaber yang aktivis itu, hari ini akan ada aksi menentang ketidakadilan atas perlakuan hukum selama ini ry. Sebagai warga negara yang baik, kita jangan diam saja melihat ke… ke.. apa ya? Oh, kezhaliman dy! (itu kata si putri lho!)he..he…
Tapi kalau dipikir – pikir benar juga sih ry.., masa kemaren maling jemuran di komplek kostku aja kemaren babak belur di hajar massa, maling gede alias koruptor didiamin aja? It’s not fair! Mau jadi apa Indonesia yang akan datang dengan hutang akibat hutang para koruptor itu ? Lho, kok aku jadi ikut marah – marah sih? Ah, bodo amat! siapa peduli? Yang penting nampang bo! Kan katanya teman – temanku, para aktivis itu banyak yang charming lho! siapa tahu aja ketemu gebetan..he- he… itu tuh dy, Prince Charming, kamu nggak lupa kan sama some one yang aku ceritain kemarin? Cool banget dy! And aku dengar, dia tuh pasti turun kalau ada aksi – aksi gini. Udah dulu ya dy, teman – temanku udah manggil tuh! Tapi, don’t worry, kamu pasti akan kubawa. Ok? Let’s go…

Diary biru, di bawah sinar mentari yang sama…..
Assalamualaikum diary mungil, sambil nunggu temen- temen lainnya nyamperin aku mendingan aku nulisin kamu aja ya? Soalnya sholat dhuha udah, periksa barang-barang udah.. barang-barang?! Kamu pasti nanya mau kemana. Ya kan?. Hari ini aku akan dan teman – teman akan turun lagi ke jalan ry. Lho, kamu pasti tambah heran ya ry, karena tiap hari kan emang aku turun ke jalan, couse ke kampus emang jalan kaki.he..he…. Hm.. yang ini beda ry ( kayak Pemilu 2004 aja! He..he..). karena hari ini akan ada aksi besar-besaran bersama rekan – rekan mahasiswa ry. Aksi kali ini akan menuntut dihukumnya seorang pejabat yang telah didakwa melakukan korupsi milyaran rupiah uang rakyat ry! . Aku sendiri heran ry, kok bisa ya orang bersenang-senang dengan uang yang seharusnya bisa memberi makan ribuan rakyat yang setiap harinya selalu bergelut dengan kemiskinan ya? Hm…ngomong – ngomong uang…coba ya uang kampanye – kampanye itu di beliin sembako, trus dibagikan ke seluruh rakyat ya…mungkin bisa kenyang setahun kali ya? Atau dibayarkan ke hutang bangsa, daripada cuma buat bikin poster, dangdutan, atau hura – hura lainnya, apalgi buat dangdutan!.
Ry, kadang – kadang kalau aku merenung, terkadang ada kerinduan akan kekhalifahan di masa Umar bin Khatab di hatiku ry. Dia bahkan rela memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang lapar. Kamu ingat kan puisinya Faiz, bocah delapan tahun itu saja tahu dan menginginkan pemerintah bersikap seperti masa kekhalifahan sahabat Nabi ry. Tapi tampaknya di negaraku mungkin tak akan menjadi kenyataan pemerintahan yang seperti itu ry. Kekuasaan sering di salah gunakan untuk mencari kekayaan pribadi. Hukum hanyalah sebuah alat yang hanya dimiliki oleh orang – orang kaya. Palu hukum hanya bisa di ketukkan oleh orang yang berkuasa ry. Ah, negeriku yang malang… oh, udah dulu ya dy.. teman-temanku udah pada dateng tuh! Sekarang kamu masuk dulu ya ke tas…

Diary merah, masih disinari mentari yang sama……….
Hi.. kertas lecek … eh sorry, hi..diary…gini-gini ternyata gw masih mau juga ya nulisin elo..! lo tau nggak? Hari ini gw la makmur nih! So, nanti gw mau nyari diary yang bagus. Ma tau ada apaan? Dari mana gw dapet uang? Ok.. gini ya… kemaren ada mas – mas kira-kira sepuluh tahun lebih tua dari gw, kalau ga salah namanya… hm..siapa ya? Kok gw jadi lupaan gini ya? Ah, nggak peduli! Yang penting dia udah ngasih gw banyak money men! Dia bilang gw cukup ngerjain satu tugas kecil. Ciiii.l lah…! Ntar ya, kalau gw sukses gw kasih tau elo. Sekarang gw mau nyiapin kostum dan peralatan yang mau gw pake hari ini dulu ya… tenang aja, lo pasti gw bawa di tas gw… ok? Ha…ha…..
Tiga diary dibawa ke tempat yang sama, waktu yang sama, Melangkah Bersama, searah, namun berbeda tujuan…

Jalan Merdeka, siang terik…..
Panas semakin menyengat kulit. Ikut membakar suasana di depan gedung megah itu. Semakin lama, sekelompok manusia yang tadi berkumpul berubah menjadi lautan massa dari berbagai latar belakang. Sebuah wajah oval terbalut kerudung biru tampak tergurat lelah yang amat sangat. Namun, semangat tetap terpancar di matanya yang bening dan teduh. Sejak tadi pagi kesibukan tak henti-hentinya menguasainya. Menertibkan agar barisan itu tetap kokoh, membagikan konsumsi, meng….
“Mbak Putri, ada yang pingsan nih…..!” sebuah suara membuat gadis yang bernama Putri itu berpaling dan mengikuti gadis sebaya yang memanggilnya tadi. Tak lama kemudian tubuh gadis itu tampak menyibak barisan, menggotong tubuh yang terbalut kaos pink kalem dan celana jeans yang pingsan ke luar lapangan.
****************

Mentari mulai menurunkan temperature suhunya. Kesibukan masih terlihat di jalan itu. Gadis yang bernama putri itu masih sibuk dengan tugasnya. Sedangkan gadis yang tadi sempat digotong ke luar lapangan tadi sudah kembali ke barisannya. Sesosok tubuh tampak beringsut perlahan ke barisan terdepan dengan menggunakan atribut yang persis sama dengan lautan manusia tersebut. Tak ada yang curiga. Hingga…
“BRAKKK…!! BRUKKKK….!!
Suara benturan dengan sesuatu yang keras mengagetkan semua yang ada di jalan yang disulap seperti lapangan tersebut. Sesuatu telah terjadi. Barisan terdepan mulai kocar-kacir. Mendadak benda – benda berterbangan menghujam barisan Putri yang ada di dalam lapisan barisan. Dalam sekejap…. Massa yang tadi tersusun rapi tercerai berai.
“Mundurkan yang putri…kuatkan border…” Ivan, salah satu korlap siang itu berteriak ke sana – sini.
Sementara itu, jerit para demonstran putri mulai terdengar. Lafaz Istighfar terdengar lirih.Terlebih ketika para aparat mulai beramai-ramai memukuli barisan border yang memagari mereka. Aneka benda masih berterbangan. Entah dari mana. kacau.
Darah membanjiri bumi. Korban berjatuhan. Entah apa yang menguasai orang-orang yang tadi menjadi pelindung bagi para demonstran itu. Kebencian tersirat di setiap wajah yang masih memukuli sosok-sosok yang telah bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya di hadapannya. Sungguh tak berperikemanusiaan!
Sementara itu Gadis semampai tadi semakin tampak sibuk menenangkan rekan-rekannya. Jilbab birunya sudah tak beraturan.
Lafaz istighfar tak henti-hentinya mengalir, termasuk dari wajah pucat gadis yang tadi sempat pingsan. Isak tangis terdengar di sana – sini. Barisan pelindung mulai menipis dan berjatuhan, hingga akhirnya tinggal satu lapis barisan yang masih berusaha keras melindungi barisan yang ada di dalamnya. Tiba-tiba sebuah benda keras meluncur….
PRANGGG!! CRASSS…!
Darah mengalir membasahi kerudung gadis itu. Kain berwarna biru itu sekejap berubah warna. Merah….
*****************

Masih disana, menjelang senja…..
Sekelompok yang merupakan bagian barisan yang beberapa saat lalu berdiri di jalan itu masih membereskan sisa –sisa yang tertinggal. Beberapa pasang sepatu, bendera, tas, dan beberapa benda lainnya. Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan benda-benda yang dapat dijadikan identitas. Beberapa lembar KTM dan KTP, Buku, dan…..tiga buah diary tergenggam di tangan salah satunya. Bercak merah menempel pada ketiganya. Menjadi saksi pembantaian hukum di negeri itu. Mendung membayangi sore dua belas Februari. Kelabu..

Depok, 13 February 2004

*Pemenang 13 Besar Lomba Cerpen Suara Mahasiswa UNISBA se-Jawa Bali, trdp dlm buku KumCer “Dilarang Menangis”

 
Leave a comment

Posted by on September 9, 2007 in Blog CERITA FIKSI

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: