RSS

Category Archives: CERPEN DAN CERBUNG

Seindah Musim Semi – Part 3

PART 3

 HARI ISTIMEWA

Fajar mulai menyingsing. Mentari mulai secara perlahan mengintip dari kejauhan di ufuk timur kota Jakarta, untuk menggantikan rembulan yang kian memucat dan semakin menghilang adri peredarannya. Shin sudah berdiri di depan kamar Indra walupun dingin masih menggigit. Dirapatkannya  Sweater rajutan tangan berwarna coklat yang membalut kulitnya yang putih. Shin segera mengetuk pintu di depannya perlahan.

Tok! Tok!

“Ndra, hello…”. Sahut Shin.

Tak ada sahutan. Apakah Indra masih tidur?, pikirnya sambil memutar kenop pintu perlahan. Pikiran jahil berkelebat dibenaknya. dilangkahkannya kaki perlahan. Shin ingat, Dulu Indra sering melakukan ini padanya. Menyelinap diam – diam, lalu menyiramnya sampai ia bangun, lalu.. kabur!. Shin segera bergegas memasuki kamar itu perlahan. Tujuannya adalah.. kamar mandi!.

Baru beberapa langkah Shin melangkahkan kaki, mendadak langkah Shin terhenti. Indra? Shin terpana memandang pemandangan di depannya. Pikiran jahil Shin hilang seketika, berganti wajah bingung. Apa yang dilakukan Indra?. Di depannya wajah Indra begitu teduh dan tenang. Indra berdiri, lalu membungkuk, lalu mencium lantai, dan mengulangi lagi. Entahlah, Shin tak mengerti apa yang dilakukan sahabatnya. Akhirnya ia putuskan untuk menunggu sambil melihat – lihat deretan koleksi buku Indra yang tersusun rapi di kamar itu sampai suara Indra mengagetkannya.

“Shin…? Sudah lama?”

Shin berpaling. Di belakangnya Indra sedang menatap Shin. Shin buru buru meletakkan buku yang digennggamnya kembali ke rak.

Shin mengangguk. Indra tersenyum.

“Apa yang barusan?”. Tanya Shin, ingin tahu.

“Sholat”

“Shalat?”

“Ya, Shalat, aku sedang menghadap Allah”

Who is Allah?”

Allah is the god. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang menciptakan langit dan bumi ini.”

Shin kelihatan bingung, “ Do-iu imi?”

“Ok, shitteru.. aku aku akan jelaskan.”

“Yang tadi aku lakukan adalah salah satu yang diwajibkan oleh agamaku. Islam.”

“Ha?! Aku nggak pernah tahu, apa itu ritual baru? You have new god? Islam? What happened?” Shin menatap Indra tak mengerti.

Indra tampak menyembunyikan ekspresinya atas pertanyaan itu. ia lalu memandang Shin dengan lembut, berharap sahabatnya itu akan mengerti apa – apa yang akan dikatakannya nanti. Ia lalu menarik napas panjang, mencoba menyusun kata – kata untuk menjelaskannya kepada Shin.

“Ya, itu sebenarnya bukan agama yang baru untukku, hanya saja selama ini aku nggak tau tentang keindahan agama itu, tentang kewajiban – kewajibannya, seperti Shalat..”

Every day?”

“Every day”

“Merepotkan.”

No.” Jawab Indra tenang. Kening Shin semakin berkerut.

No?”.

“Yeah, aku nggak repot sama sekali kok, hm.. gini aja, kalau kamu dikasih sesuatu yang sangat berharga, apa yang akan kamu lakukan untuk membalas kebaikan itu?”

“Ya.. say thank’s. Semua juga tahu, anak kecil aja tau!”. jawab Shin menirukan sebuah iklan di tivi yang dulu kerap di dengarnya.“Trus apa hubungannya?” lanjut Shin sedikit jengkel dengan pertanyaan Indra.

“Begitu juga dengan Allah, sang Pencipta, Dia yang memberi kita hidup sekian puluh tahun, bahkan ada yang ratusan tahun, ngasih oksigen buat bernapas, dan hasil – hasil bumi untuk dimanfaatkan. Apalah artinya lima atau sepuluh menit, atau se-jam sekalipun yang kita gunakan untuk menyembahnya, salah satu ungkapan syukur kepada-Nya ya dengan shalat, kalau dibandingkan dengan apa yang diberikannya kepada kita, bayangin aja, napas, tubuh, dan semuanya kita dapet, masak kita nggak makasih? Kalo kamu mikirnya gitu, pasti nggak akan merasa repot.”

Shin terdiam. Kepalanya berusaha mencerna kata – kata yang keluar dari mulut Indra.

Demo…”

“Ok, ya sudah, sore-wa ato-de haraca. Ok? Sekarang aku siap – siap dulu ya? Kamu udah dapet batiknya kan dari ibu?”

Shin mengangguk, lalu keluar dengan wajah bingung. Indra mengerti kebingungan sahabatnya itu. Dulu Shin memang tak pernah melihat hal ini. Ia akan menjelaskannya tentu, tapi bukan sekarang. Indra duduk sebentar di meja kerjanya. Sejak Shin datang, ada sesuatu yang mengganjal di kepala Indra. Ia heran dengan sikap Shin. Kenapa Shin seperti tak mengerti apa – apa dan seakan benar – benar baru mengetahui setiap lembar perubahan pada dirinya? padahal selama ini ia begitu rutin menuliskannya di dalam setiap suratnya? Ataukah surat itu tak pernah sampai di tangan Shin?.

…………………..

 

Shin baru selesai berganti pakaian, ketika Indra menghampirinya.

Yoi dekita?”

Shin mengangguk, lalu meneliti dari ujung sepatu sampai rambut Indra, yang sempat membuat Indra salah tingkah. Setelan hitam putih dan jas tersampir di lengannya. Rambutnya tersisir rapi. Tak ada yang istimewa, kecuali wajahnya yang tampak bercahaya dan bersih itu Pakaian pengantin yang sederhana, itu pendapat Shin. Shin sendiri mengenakan setelan batik berwarna biru yang diberikan ibu Indra. Batik seragam yang dipakai oleh semua keluarga pengantin, katanya.

“WAOWW, nice!” Shin berdecak kagum dengan penampilan sahabatnya itu. Keduanya lalu beriringan menuju ruang makan  untuk makan pagi.

Setelah sarapan, merekapun berangkat Bersama keluarga Indra menuju sebuah bangunan yang cukup besar yang di depannya sempat ia baca papan bertuliskan Masjid. Dengan ketidak mengertiannya, Shin ikut melangkahkan kakinya memasuki bangunan sederhana, yang namun terlihat megah itu.

Di dalam ruangan bercat putih bersih itu Shin dan Indra di sambut beberapa orang yang telah hadir yang akhirnya diperkenalkan Indra sebagai teman – temannya di lembaga dakwah kampusnya – entah apa itu, Shin tak mengerti—kepadanya. Shin lalu menatap garis pembatas seperti tirai yang melintang, membagi dua di tengah ruangan itu.

“ Itu hijab”, jawab Indra membaca kerutan kenng Shin.

Nani?! Hijab? What’s that?” Shin makin bingung.

“Batasan yang memisahkan tempat duduk lagi – laki dan perempuan.”

Shin melongo. Acara pernikahan macam apa ini? Aneh! Shin tak habis pikir. Untunglah, tak lama kemudian iringan keluarga pengantin wanitapun tiba.

Shin memutarkan kepalanya tepat sesaat sebelum sosok pengantin yang membuatnya penasaran itu menghilang di balik pembatas atau hijab. Shin semakin tak mengerti, Apa lagi ini Indra?

Akhirnya rombongan pengantin wanita tiba. Shin memalingkan wajahnya untuk melihat wanita yang akan diperistri oleh sobatnya itu. Sekilas.. hanya sekilas, tapi  ia bisa melihat sosok pengantin tadi. Seorang wanita sederhana yang mengenakan gaun putih sederhana yang longgar dan panjang menutupi seluruh tubuhnya yang semampai dan… jilbab putih lebar yang menutupi rambutnya!.

Serentak Rasa benci itu hadir kembali di hati Shin. Semakin tebal dan semakin terasa menutupi hatinya. Shin memandang Indra dengan tatapan semakin tak mengerti dan kesal, itukah calon istrimu Ndra? Bukankah Indra seharusnya  tahu kalau ia sangat membenci kerudung itu? bukankah Indra tahu, kerudung itulah yang telah menggoreskan luka yang sedemikian dalam di hatinya? Luka yang masih meninggalkan bekas hingga saat ini? Lalu.. sekarang istri, eh calon istri Indra seorang gadis berkerudung!.

Sekali lagi Shin memalingkan kepalanya ke tempat pengantin wanita itu. Lalu… serentak Shin terperanjat. Gadis itu! Siapa gadis yang juga berkerudung yang di samping pengantin itu? Bukankah itu… Rei …Reina!?

Shin ingat, kemarin Indra pernah bilang, kalau calon istrinya adalah temannya Reina. Tapi, Shin tak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan gadis itu di sini. Mengapa Indra tak memberitahunya bahwa Reina juga datang? Dada Shin langsung bergemuruh. Seketika kepahitan masa lalu langsung tergambar jelas di kepala Shin, masa lalu yang begitu pekat…

……bersambung ke part 4…………

 

 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2012 in Part 3, Seindah Musim Semi

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Seindah Musim Semi – Part 2

PART 2

WAKTU BISA MERUBAH SEGALANYA, SHIN..

 Itu dulu, lima tahun yang lalu. Sekarang.. dalam usia dua puluh dua tahun Indra akan menikah di negerinya ini, Indonesia! Huu…huu…hu.. Dua puluh dua tahun men!!. Sulit terbayang di kepala Shin. Indra yang dulu menjadi kapten klub sepak bola, Indra yang terkenal dengan prince charming-nya di SMU mereka dulu, Indra yang memiliki otak encer, Indra yang menjadi kapten sepak bola, yang kerap kali mengalahkan Shin bertaruh dalam lomba mengumpulkan supporter di sekolah setiap kali klub sepak bola mereka akan bertanding (sebenernya sih kalau masalah tampang Shin nggak kalah, tapi  Indra orangnya lebih berani, nekad!), Indra, tidak seperti Shin yang pernah patah hati. Shibui, atama-ga ii-ne, kawaii, benar – benar Perfect. Shin tak habis pikir, Apa yang dipikirkan sahabatnya itu? Shin hanya bisa bengong ketika lima hari lalu Indra menelphonnya di Osaka…

“Ndra, jodan daro?”. Shin menanyai Indra sekali lagi. Ia masih ragu dengan pendengarannya.

No, I m serious. So,  makanya aku memintamu datang ke Jakarta”. Aku? Kamu? Sejak kapan Indra ber-aku – kamu? Bukannya ber-elo-gue? What happened with you?, Shin jadi bingung ketika menyadari perubahan gaya bicara Indra. Ah, waktu kan bisa merubah seseorang , lagipula itu kan Cuma bahasa aja!, pikir Shin.

Sore-o kiite ureshii. But.. You called me one week before your wedding?”. Tanya Shin masih dengan rasa tak percaya.

I m sorry, friend”.

How about our agreement?”

“Then… the bride?”

“Beautifull?”

“Where is she?” serbu Shin bertubi – tubi.

“Duh.. shin.. stop please… kamu sedang bertanya atau mengintrogasiku? Bingung nih!. One by one. Ok?”

“Ok.”

Sesaat kemudian Indra terdiam. Lalu..

I m really sorry, prosesnya memang agak cepat dan aku nggak pernah lupa sama janji kita dulu, kalau kamu nikah, aku yang akan nyiapin pestanya, kalo aku nikah, kamu kan yang nyiapin pestanya?, so-nano?

“Huu…. You called me too late, gimana bisa aku nyiapin pesta? Eh, aku bisa nyiapin pesta untuk kamu dalam waktu tiga hari? Three days Ndra! Aku harus ke Jakarta, trus sibuk ngurusin ini – itu, pesen ke sana – sini, in three days?

Gila, Indra Ada-ada saja!

“Shin, aku hargai niat baikmu, thank’s very much.. but she is different.”

Different? Nani-ga chigau-no?”

“Dia.. dia ingin pernikahannya sederhana aja kok, nggak neko – neko. Kamu mengerti kan?”

No party?

“Yup! No party. Cuma acara sederhana, ramah tamah aja,  acara kecil – kecilan.. dan Cuma ngundang kerabat dekat aja kok”

Nani???!! Apa lagi ini Ndra?. Shin melongo. Mana ada pernikahan seperti itu?.

“Ndra, dari dulu kamu selalu punya kejutan, but I don’t like this…

I m sorry, my friend.”

“Aku penasaran seperti apa sih istrimu yang sok sederhana  itu? how she look like?

“Eit, Makanya.. penasaran kan? Udah cepetan aja dateng  ke sini, biar kenalan, ok?”

Ja mata-ne.” Shin meletakkan telepon dengan sedikit kesal. Huu…Indra. Ada – ada saja tuh anak, pikir Shin. Tapi… Indra berhasil juga membuat Shin penasaran, seperti apa sih Indra sekarang? Dan seperti apa calon istrinya Indra itu? Apakah secantik Clara yang dulu sering ia ceritakan ketika Shin baru kembali ke Osaka? Atau secantik Reina yang sempat membuat Shin seperti orang gila? Atau Maya yang manis dan pintar? atau nama – nama lainnya yang sempat mampir di telinga Shin dulu?

“Shin..!! “ sebuah suara bariton  yang dulu akrab di telinganya  mengagetkan sosok berwajah Jepang itu. Shin mencari sosok yang memanggilnya. Lalu lalang orang yang lewat di depannya membuat Shin kesulitan mencari asal suara itu. Tapi kemudian matanya tak berkedip menatap sosok didepannya. Indra!.

Seingat Shin, dulu waktu SMA Indra adalah orang yang paling susah diatur, apalagi yang namanya soal pakaian dan rambut! Seringkali Shin memarahi Indra. Pernah dulu, Indra datang ke pesta ulang tahun Shin dengan jeans kumalnya, trus rambutnya dicat nggak karuan?. Tapi sekarang yang di hadapannya? Oh, no!,  bukan lagi Indra yang seperti itu. Tapi, Indra  dengan setelan kemeja rapi, rambutnya yang dulu sering diwarnai kini tampak hitam,  tampak jauh lebih dewasa !!. Wow!, Shin berdecak kagum melihat penampilan Indra. Tapi kenapa Indra sendiri ya ? mana calon istrinya?, pikir Shin.

Shin segera menghampirinya.

Genki data*? Sudah lama?”

“ Hm… Genki, belum.” Mata Shin kembali mencari – cari sosok yang membuatnya penasaran. Hati Shin bertanya – Tanya, who is she, Ndra?

“ Hei..mencari calon istriku?”

Hm…malu deh ketahuan. Shin mengangguk.

“He eh! Where is she?”

“Tuh kan kamu penasaran, sabar dong Shin… tomorrow.”

“Besok? Besok kan pernikahaanmu? Saat pernikahanmu?”

Indra mengangguk.

Good!” Shin sebal. Dari dulu Indra memang selalu penuh kejutan untuknya, tapi ia tak menyukai yang ini,” What is her name?”.

“Putri Maharani, asli Sunda, sundanese.”

Sundanese, Shin masih ingat dengan kata-kata itu. Sunda  adalah salah satu nama suku di Indonesia. Dulu Shin juga belajar sejarah Indonesia waktu SMA lho! (Walaupun Japanese, nilai sejarah Indonesia nggak pernah kurang dari delapan ! so smart!).

Beautifull?”

“Kamu ini.. selalu saja, nggak pernah berubah, ga boleh liat yang cantik dikit aja. Ayo…!” Indra menyeret tas Shin yang ada di depannya. Shin mengikutinya.

“Ok, sekarang kita mau kemana dulu nih? Ke kafe tempat kita nongkrong dulu waktu SMA? Atau mau ke kafe milik teman papa? Nih, alamatnya dari papa, nggak jauh kok dari sini” tanya Shin.

Indra memandang Shin sesaat, lalu menggeleng. “Tidak, kita langsung pulang aja, ibu, niniek, datuak, udah nungguin kita di rumah, ok?.”

Niniek? Datuak?”. Shin melongo.

My grandfather and grandmother.”

“O…Ok deh kapten..!”

Shin mengikuti langkah Indra yang melangkah ke tempat parkir dengan tak banyak bicara. Tapi diam – diam Shin menyimpan pertanyaan atas perubahan dalam raut wajah sahabatnya ketika menjawab pertanyaannya yang kedua terakhir tadi. Ada yang berbeda yang terasa di hati Shin pada Indra. Tapi entah apa, Shin belum mampu menyelami arti perubahan itu.

Dalam perjalanan pulang, mata Shin lebih banyak mengamati perubahan kota yang sudah sudah lima tahun ditinggalkannya ini. Macet yang tak pernah habis- habisnya membuatnya puas memperhatikan setiap sudut jalan yang dilewatinya. Matanya terus memperhatikan anak – anak jalanan yang semakin ramai menghiasi ibukota Jakarta. Di kotanya, Osaka, di negeri sakura sana, ia tak pernah melihat pemandangan seperti ini.

Ada ibu – ibu yang berjejer dengan anak – anak balitanya. Di depan mereka terdapat tempat dari botol aqua gelas bekas yang berisi beberapa keping uang receh. Ada lagi, bapak – bapak dengan kaki yang cacat, Dua orang anak kecil yang dekil sedang memainkan alat yang terbuat dari botol yang diisi dengan pasir mendekati jendela tempat duduk Shin. Shin memperhatikan wajah anak itu lebih seksama. Ya ampun, umur anak – anak itu kira – kira masih lima atau enam tahunan!.

“Kasihan, kasihan sekali..” gumam Shin lirih.

“Ya, dulu keadaannya masih belum separah ini, semakin lama semakin banyak yang datang ke ibu kota, tergiur dengan keindahan dan kesenangan yang hanya mereka lihat di tivi – tivi, padahal keadaannya  nggak sesuai dengan dengan kenyataan yang sebenarnya. Penuh kekerasan dan persaingan. Ya, seperti inilah jadinya…”

“Where is their parent?”

“Orang tua mereka? Ada yang udah nggak punya orang tua, tapi ada yang masih punya. Tapi.. ya keadaan mereka sangat memprihatinkan dan kadang yang maksa anaknya untuk ngamen untuk mencukupi biaya hidup sehari – hari.”

“The government?”

“Ada usaha yang dilakukan pemerintah walaupun masih minim sekali, seperti pembuatan panti sosial dan tempat penampungan, di sana mereka diajarkan keterampilan.. tapi hanya sebagian  kecil aja Shin yang betah di sana dan yang lainnya kabur..”

“Why?” Shin heran.

Indra mengangkat bahu, “Yaaa.. nggak tau, ada yang karena peraturannya yang mungkin ya menurut mereka agak ketat, ya.. ada juga karena nggak betah gara – gara di sana mereka harus bekerja, ya kalau di sini kan tinggal tadahkan tangan aja, tanpa harus kerja.”

“Berapa penghasilan mereka per hari?”

Lagi – lagi Indra mengangkat bahu, “Nggak tau juga, sebenarnya mereka bisa dapat banyak kalau mereka bekerja untuk diri mereka sendiri, tapi di sini kebanyakan mereka punya bos- boa atau genk-genk lagi, sebagian besar, bahkan ada yang harus menyetorkan semua uang yang mereka dapatkan.”

Percakapan meraka terhenti ketika seorang pengamen mengetuk kaca di samping Shin.

Indra memberikan selembar uang kepada Shin untuk diberikan kepada pengamen cilik yang ada tepat di samping jendela tempat Shin duduk. Shin-pun buru – buru ikut mengeluarkan selembar uang, lalu memberikan uangnya dan Indra kepada kedua pengamen cilik itu sebelum mobil bergerak meninggalkan kemacetan sudut ibu kota yang penuh derita itu. Hati Shin miris. Mendung mulai menyelimuti ibukota.

………………….

Di rumah Indra suasana sedang ramai saat Indra dan Shin tiba. Hal ini karena kedatangan keluarga dari ayah Indra dari Sawah Lunto, kampung halaman kakek Indra dari pihak ayahnya. Sebenarnya sih yang menginap di rumah Indra cuma beberapa  orang saja, yaitu nenek, kakek, etek Mia dan uni Ade, sepupunya Indra yang orangnya super ceriwisnya kayak Ulfa Dwiyanti itu. Selebihnya sejak sore tadi sudah berangkat ke rumah dari keluarga ibunya, yang tak jauh dari sana menginap di sana.  Tapi karena uni Ade tuh orangnya nggak bisa diam,  Jadilah suasana menjelang makan malam, di ruang tengah  itu ramai oleh celoteh – celoteh dalam bahasa yang cukup asing di telinga Shin. Bahasa Padang, yang membuat Shin melongo.

“ Ayolah Shin…tambah lagi.” Ujar bu Nur, ibu Indra kepada Shin.

Iyo, makanlah, iko karipik yang niniek bawa dari kampuang, babuek surang, indak baboli do, lamak kan?” nenek Indra yang datang dari Padang menyodorkan seplastik kerupuk sanjai, keripik asli padang, kepada Shin.

Shin melongo. Nggak ngerti!.

“Maksud amak, ini keripik yang di bawanya dari kampung, dibikin sendiri, nggak beli, oishii?”. Terjemah ibu Nur ketika melihat kening Shin berkerut.

“Oh, oishii, eh, enak nek, tapi mungkin buat nanti aja setelah makan, sekarang Shin sudah kenyang, nanti takut nggak kuat lagi makan nasi nya” Jawab Shin. Tapi, nenek Indra yang sudah cukup lanjut usia itu tampaknya tak mengerti dengan ucapan Shin. Ia masih saja menyodorkan kripik itu kepada Shin.

Lamak bu, tapi keceknyo untuak beko sajo, kini ko alah kanyang, takuik indak bisa makan nasi beko,” bu Nur menerjemahkannya dalam bahasa minang, barulah nenek Indra yang berumur hampir seabad itu mesem – mesem. Mengerti.

“Indra mana bu?” tanya Shin.

“Indra mungkin masih shalat Isya, mungkin sebentar lagi.”

Apa?? Sholat? Isya? Apa itu? Sepertinya pernah ia dengar dan  baca waktu SMU dulu, tapi dimana? Ah, sudahlah, mungkin sebuah ritual sebelum pernikahannya. Pikir Shin. cuek.

“Bagaimana kabar orang tuamu? “

“Baik bu, sekarang papa dan mama sekarang sedang sibuk mengurusi perusahaan, biasa, Desember, end of the year…”

“O… syukurlah.”

“Urang gaek Shin tingga di ma? Asli ma?”. Uni Ade, , sepupu Indra, yang kebetulan sedang membawakan air minum ikut nimbrung. Uni Ade emang suka asal nyambung dan iseng orangnya. Jadi kalau dulu Indra pulang ke Padang, trus ketemu Uni Ade, pasti klop alias cocok. Cocok isengnya!.  Shin memandang bu Nur. Minta ditranslate!.

“Katanya orang tuamu tinggal di mana? Dokkara kita-no?

“O.. di Osaka, Jepang, dulu saya sempat tinggal lima tahun di sini..”. jawab Shin.

Uni Ade mengangguk – angguk.

“Oh.. aye kirain orang betawi juga, jadi aye tanyain pake bahasa padang, he .. he..”. ujar uni Ade sekarang dengan asal logat betawi, lalu  ngeloyor kembali ke ruang makan, meninggalkan Shin, bu Nur, dan etek Mia, adik ibu Indra,  yang masih melongo. Apa hubungannya betawi sama padang? Emang kalau betawi bisa ngerti bahasa Padang?. Asal deh..!.

“Bu, boleh saya bertanya?”.Tanya Shin.

“Ya…?”

“Kok Indra mau nikah secepat ini? Umurnya kan masih dua puluh dua.. then..”

Then, how about his career?”. Sambung bu Nur, membaca pikiran Shin. Shin mengangguk.

“Kenapa Shin? Khawatir kalo kamu nikah sekarang, khawatir akan menghambat karirmu? Masih terlalu muda?”

Lagi – lagi Shin mengangguk.

“Shin, nggak ada istilah terlalu muda ataupun terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Kalau seseorang memang udah mampu untuk nikah, maka alangkah mulianya kalau ia menggenapkan diennya, yaitu dengan menikah.. yah, emang sih gajinya Indra nggak begitu tinggi, tapi Insya Allah.. untuk rizki itu urusan Allah dan Allah telah mengatur dengan seadil – adilnya untuk hamba-hamba-Nya.. yang penting usaha.. dimana  ada usaha, disitu pasti ada jalan.”

Dien? Insya  Allah? Apalagi itu? Allah, siapa? Kata- kata yang keluar dari mulut ibu Indra berterbangan di kepala Shin.

Tapi, hal itu hanya berlangsung beberapa detik, karena  Indra muncul dan bergabung untuk makan malam. Sejenak hal itu terlupakan.

Seusai makan malam itu, Shin tak begitu banyak bertanya kepada Indra. Karena kata – kata yang tadi diucapkan oleh ibu Indra kembali melayang – layang di kepalanya. Ia kembali  memikirkan kata – kata yang diucapkan bu Nur tadi, tentang pernikahan, Pencipta, termasuk tentang kain lebar yang menutupi rambut ibu separuh baya yang belum sempat ditanyakannya itu. Serentak kebencian semerbak di hati Shin. Bukan, bukan ibu Indra yang dibencinya, tapi kain lebar yang menutupi rambut wanita itu, Jilbab!. Ada kebencian yang begitu mendalam tiba – tiba hadir di hati Shin.  Shin benci melihat jilbab itu!. Gara – gara kain itulah hatinya terluka, Shin benci, benci sekali!. Semuanya seakan berebut tempat di kepala Shin.

“Shin…” suara Indra mengagetkan Shin.

Genki?” tanya Indra dengan bingung melihat Shin yang masih diam. Shin tersentak, “Eh, genki”.

“Kalau kamu punya masalah, kamu bisa cerita ke aku atau mama, jangan kebiasaan dipendam. Tell me about your problem.” Ujar Indra, menepuk pundak Shin.

“Shimpai shinai-de, I m fine. Aku mau istirahat dulu ya, nemui. good night. Malam bu, nek, kakek, sister. ” ucap Shin pelan.

“Sister? Emang ada yang namanya sister di sini?” Uni Ade nggak nyambung.

“Huss!! Sister itu dari bahasa Inggris, Indonesianya saudara perempuan. Makanya belajar dong De, biar nggak sekolah juga, biar tau”. Bu Nur menyahuti. Indra dan Shin hanya geleng – geleng kepala. Uni.. uni..

“Ok, Shin. sweet dreams.”

Shin mengangguk, lalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya. Shin tahu, Indra pasti akan membantunya jika ada masalah, tapi masalahnya justru ia sendiri bingung bagaimana mengungkapkannya ke Indra. Begitu banyak kata – kata yang memenuhi otaknya, begitu banyak hal yang tak dimengertinya, begitu perih luka hatinya, begitu.. ah, semuanya begitu membingungkan, dan cepat berubah!

Sementara itu, dari ruang makan Indra memandangi punggung sahabatnya yang menghilang dari kejauhan itu. Indra tahu ada sesuatu yang disembunyikan Shin darinya. Tapi ia juga tak bisa memaksa Shin. Indra tahu pasti sifat tertutup sahabatnya itu. Tapi, terus terang hati Indra masih was-was. Apakah Shin sudah menyadari semua perubahan yang terjadi pada dirinya? Bagaimana cara memberitahukannya kepada Shin? Semua perubahan ini? Bagaimana jika Shin benar – benar akan meninggalkannya nanti?

“Ya Allah,Seaindainya ia memang punya masalah yang tak bisa diceritakan, berikanlah petunjukmu dan penyelesaian yang terbaik untuknya, dan juga berikanlah kemudahan untuk dalam menjelaskan semua ini nanti, berikanlah petunjuk dan kefahaman, dan hidayah-Mu ya Allah kepada Shin, dan kelapangan dada dan kesabaran jika penjelasan hamba nanti berakibat buruk baginya dan tidak sesuai dengan apa yang hamba harapkan ya Allah..” doa Indra dalam hati.

 

………bersambung ke part 3………..

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Seindah Musim Semi

Cerita ini sebetulnya sudah saya tulis kira-kira sekitar pada tahun 2005 lalu, hanya saja belum sempat dilirik-lirik lagi. Insya Allah akan saya posting secara rutin setiap minggunya, semoga ada yang suka ya dan selamat mengikuti..!

by: maria ulfa azkahara


 

PART 1

SEPENGGAL KENANGAN

MASA KECIL

Hiruk pikuk bandara Sukarno – Hatta seakan tak akan ada  habis – habisnya. Para lelaki, wanita, anak – anak, bahkan sampai orang tua jompo pun ikut meramaikan hilir – mudik dan kesibukan di bandara nomor satu di Indonesia itu. Ada yang celingak – celinguk seperti sedang mencari atau menunggu seseorang, bersalaman, berpelukan, dengan celoteh – celoteh khas mereka masing – masing. Diantara kerumunan itu, tampaklah seorang laki – laki berperawakan sedang, berbadan tegap, berkulit putih, dengan mata yang sedikit sipit, dan   berambut kecoklatan yang juga ikut menoleh ke kanan – kirinya. Matanya yang sipit menjadi semakin terlihat sipit karenanya. Dia adalah Shin.

Shin. Cowok asli negeri sakura itu kali ini untuk ke  dua  kalinya menginjakkan kakinya kembali di bandara Sukarno – Hatta sejak pindah kembali ke tanah airnya, Jepang lima tahun yang lalu. Kalau bukan karena undangan sahabat dekatnya, Indra,  mungkin Shin tak akan bisa sampai ke sini lagi. masih terngiang di kepala Shin suara sang mama saat ia mengatakan akan berkunjung ke Indonesia dua hari yang lalu yang begitu keras menentang kepergiannya ini.

Shin maklum, “Ya.. mungkin papa dan mama tak ingin aku mengingat masa lalu yang penuh kepahitan waktu aku tinggal di kota ini dulu, atau khawatir luka lama waktu SMA itu  akan terbuka kembali, dan segudang alasan lainnya.” Shin menghibur diri.

Tapi beruntunglah! Shin berhasil membujuk papanya untuk bisa menghadiri acara surprise yang disiapkan Indra untuknya. Indra. Ya, Indra adalah teman sepermainan, sekaligus teman terdekat Shin waktu SMA, yaitu selama orang tua Shin pindah tugas ke Indonesia dulu, sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika Shin menginjak bangku kelas dua SMP.

Tak banyak yang Shin ingat tentang masa lalunya dan seluk – beluk kota ini. Mungkin karena kenangan – kenangan manis itu telah tertutup oleh kepahitan yang dialaminya. Hanya kepingan – kepingan kenangan dari surat – surat Indra yang hanya sering kali berkelebat di benak Shin dan menghiasi mimpi – mimpi Shin. Hanya dua kali surat Indra diterimanya. Dalam lembar surat itu Indra selalu mengingatkan Shin tentang kenangan mereka ketika ia tinggal untuk lima tahun di negeri ini, terutama ketika Shin baru pindah ke Indonesia.

Waktu itu.. umur Shin baru tiga belas  tahun, umur di mana seharusnya Shin puas bermain dengan teman – temannya di negeri sakura sana, berlomba – lomba mempersiapkan diri untuk mengumpulkan nilai-nilai terbaik untuk bekal masuk ke SMA favorit masing – masing, melewatkan liburan musim panas bersama teman -  teman sekolah, dan segudang kegiatan mengasyikkan lainnya. Tapi,  Shin malah terpaksa harus memilih untuk mengikuti orang tuanya pindah dari negeri sakura itu ke negeri asing ini, Indonesia.

Sebenarnya perumahan yang mereka tempati itu cukup ramai. Ramai dengan kesibukan mereka masing – masing. Tapi, tetap terasa sangat sepi dan asing. Tak ada teman bermain, tak ada yang bisa diajak bicara. Oh! Sungguh, Shin merasakan kerinduan yang amat sangat dengan rumah lamanya, dengan teman sepermainannya.

Sebetulnya – kata ibunya- beberapa kilo dari rumah mereka ada tempat perbelanjaan besar seperti di Jepang, yang disebut mall. Shin ingin sekali kesana, setidaknya mencari toko buku yang menjual kamus Jepang – Indonesia atau mainan impor  terbaru dari negerinya. Setidaknya main games akan menghilangkan kebosanannya. Tapi lagi – lagi Shin berpikir.  Teman saja ia belum punya untuk diajak bermain kesana, bagaimana mungkin ia hendak kesana? Naik mobil umum? Dengan uang yang tak ia mengerti? Satu Yen berapa rupiah ? Dan satu lagi problem yang yang dihadapi Shin, ia belum bisa berbicara dengan bahasa Indonesia!. Sementara orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing – masing. Shin menarik napas panjang, ia mulai berandai –andai, “Ah, seandainya saja papa dan mama datang ketika sekolah sudah mulai dan bukan pada waktu libur..”

Dalam keadaan bingung akhirnya Shin memutuskan untuk berkeliling di sekitar komplek saja dengan sepeda yang dua hari lalu baru dibelikan ayahnya. Sebentar – sebentar sepeda itu melaju dengan kencang, dan melambat jika ada hal – hal yang menarik perhatiannya.

Beberapa menit kemudian Shin melewati pertigaan jalan yang ia tidak tahu  akan berujung kemana. Kondisi jalanan itu memang cukup sepi, karena mungkin orang – orang sedang sibuk bekerja. Hanya beberapa ibu – ibu setengah baya yaang tampak asyik mengerumuni sayur – sayuran di sebuah gerobak. Sesekali tawa mereka terdengar riuh.

Tak jauh dari tempat para wanita itu mengerubung, terdapat taman bermain. Beberapa anak – anak kecil dan anak  seusianya tampak sedang asyik bermain. Beberapa anak perempuan yang yang ia taksir berumur sekitar enam tahunan tampak sedang sibuk dengan rumah barbie yang ada di tengah lapangan itu, sedangkan anak – anak lelaki sibuk dengan mobil – mobilan mereka.

Di sisi sebelah kanan taman itu terdapat lapangan bola. Di sanalah beberapa tampak anak seusianya sedang bermain bola. Shin menatap mereka sesaat, lalu memutar sepedanya dan melanjutkan acara jalan – jalannya kembali.

Setelah cukup lelah berkeliling, Shin akhirnya memutuskan untuk pulang. Dibelokkannya sepeda itu dengan asal dan dengan tetap memandang rumah – rumah yang dilewatinya dengan bosan. Sampai….

“BRAKK!!!”

Bunyi benturan dari arah samping jalan yang berlawanan dengannya membuatnya menoleh dan tersadar dengan posisi jalannya yang terlalu ke kanan. Sementara itu, tak jau dari sebelahnya, seorang anak tampak bersusah payah membangunkan sepedanya yang menabrak trotoar jalan. Pastilah anak itu menyingkir terlalu ke kanan karena menghindari menabrakku, pikir Shin dengan rasa bersalah.

Shin bingung. Ia memutuskan untuk turun dari sepedanya, menyandarkan sepeda itu dan berniat membantu, namun anak itu ternyata sudah berhasil bangkit dan menaiki sepedanya kembali. Hanya minta maaf yang terpikir oleh Shin. Shin bingung. But, how?

Shimpai shinai-de, Genki-dayo**.” Ucap sosok itu.

Kebingungan Shin bertambah lagi ketika sosok berkulit putih dan berbadan tegap itu mengucapkan kata – kata dalam bahasa Jepang kepadanya, meski terbata – bata, namun ia mengerti. Itu adalah kata dalam bahasa Jepang pertama yang ia dengar dari orang selain orang tuanya sejak pindah ke sini.

Namae  nante iu-no?” sambung sosok itu.

“Aoshima, Shin Aoshima.” Jawab Shin pendek.

Sosok di depannya itu mengulurkan tangannya, dan berkata,“Indra.” Ucapnya, Shin segera menyambut uluran tangan itu dengan agak canggung. Mereka berdua lalu kembali mengyuh sepeda masing – masing, tapi kali ini dengan amat pelan.

Dokkara kita-no?”

“Achi.” Shin menunjuk rumah bercat putih persis di ujung jalan di depan mereka berdiri.

Tanoshiku sasete ageru.” Ucap Indra sebelum berbelok menggiring sepedanya dan masuk ke rumah yang hanya berjarak dua rumah dari rumah yang tadi ditunjuk Shin.

Sejak itu Indra sering main ke rumah Shin, demikian juga sebaliknya. Indra menemani Shin kursus intensif bahasa Indonesia, sedangkan Shin mengajari Indra begitu banyak suku kata Jepang baru, mengajarinya membaca komik Detective Conan yang sangat digemarinya dalam versi aslinya,  menulis huruf kanji, tentang budaya Jepang, game – game baru, demikian juga sebaliknya, Indra mengajari Shin bahasa Indonesia dengan cepat, menyebut huruf el (L) dengan baik (tau kan Shin cadel el?), Sehingga dalam tiga minggu saja Shin langsung bisa bicara bahasa Indonesia dengan lumayan baik, walau masih terbata – bata..! Ajaib kan? Karena itu ketika masuk sekolah Shin tak begitu kesulitan lagi dalam berkomunikasi, dan kalaupun agak kesulitan Indra akan membantunya. Sedangkan dalam belajar (terutama pelajaran bahasa Indonesia), Indra selalu mengajari Shin di rumah seusai latihan bola, olah raga favorit Indra. Karena itu jugalah  akhirnya orang tua Shin memutuskan untuk memindahkan  Shin ke  yang sama dengan Indra.

Dua tahun kemudian…

Tak terasa dua tahun telah berlalu, artinya sekarang mereka sudah duduk di bangku SMA dan menjadi ABG (Anak Baru Gede). Persahabatan merekapun semakin erat dari hari ke hari, walaupun seringkali banyak yang mempertanyakan  tentang persahabatan mereka yang begitu akrab itu. bagaimana tidak? Meski seusia dan tumbuh seiring – sejalan, tapi Indra tidak seperti Shin. Indra anak yang supel, sehingga bisa bergaul dengan siapa saja, kenalan dengan siapa saja, entah itu di sekolah, rumah, atau di mall sekalipun. Prestasinya yang cemerlang dalam belajar, maupun olah raga membuatnya lebih menonjol dari murid lainnya. Satu lagi yang disukai Shin darinya, Indra selalu bicara terbuka, apa adanya, kadang kepede-an, atau bahkan terkadang terlalu blak – blakan. Tidak seperti Shin yang lebih memilih tak banyak bicara dan lebih suka memendam masalahnya sendiri. Shin tidak begitu suka dengan keramaian, kecuali Indra yang mengajaknya. Shin lebih suka membaca buku. Dan inilah yang membuat persahabatan mereka bertambah erat, berebut nilai tertinggi!.

Mungkin karena sikapnya yang pede itu juga Indra masih bisa berbicara sedikit dalam bahasa Jepang. Tapi bukan berarti Indra juga keturunan Jepang lho!.

Ayah Indra asli Sawah Lunto, sebuah kota kecil di Sumatera bagian barat, sedangkan ibunya betawi asli. Konon katanya ketika ayahnya Indra melamar, pihak dari ibunya Indra langsung diberi syarat. Kalau mau nikahin anak gw, lu kudu tinggal di sini, kaga’ boleh di jakarte,kagak boleh bawa anak gw ke Padang!, begitu kali ya bahasa kasarnya. Ya, jelas aja pihak ayahnya Indra juga menentang.. Untungnya, keluarga ayahnya Indra orangnya udah nggak terlalu terikat banget sama yang namanya adat sana dan agak fleksibel, jadi masih bisa dilobi (kayak deadlock sidang aza ada lobi-lobi.. J).

Akhirnya setelah lobi- melobi, keluarlah hasilnya, yaitu  wajib lapor, eh, wajib pulkam (pulang kampung) setahun sekali!. Kalau tahun ini lebaran di Jakarta, tahun besok harus di padang. Jadilah Indra bisa sedikit bahasa minang juga. Nah, kalau bahasa Jepangnya itu, dari Shin tahu dari ibunya Indra, kalau ternyata keluarga itu sempat tinggal tiga tahun di Jepang, waktu ayahnya Indra ditugaskan di sana (waktu itu Indra masih SD). Tapi, emang dasarnya Indra yang suka ceplas – ceplos dan kadang nggak peduli pakai bahasa apa, jadinya tuh bahasa nempel terus, padahal udah lebih dari lima tahun lho!

…………Bersambung ke part 2……………


 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Amplop Penyesalan

AMPLOP PENYESALAN

by; maria Ulfa Azkahara

 

“ Pak…cakit…akit paaak…”

“ Pak, pulang…..”

Suara rintihan bocah kecil belahan jiwaku selama empat tahun ini terus menggema di telingaku. Sosok kecil lemah akibat diserang demam  berdarah itu kini terbaring di bangsal ekonomi yang selalu padat dengan pasien berekonomi rendah di rumah sakit kecil di pinggir desa.

Hanya berangan – angan yang bisa kulakukan, Seandainya punya cukup gaji, tentunya aku akan membawanya kerumah sakit yang besar.. atau bahkan kalau perlu aku akan membawanya ke rumah sakit nomor satu.. seandainya..

Ah! Kenapa aku ini?

Kucoba merebahkan tubuh perlahan di atas tikar pandan lusuh yang mengalasi lantai rumah petak kecil itu. aku akan memejamkan mata barang sejenak, karena nanti malam aku akan bergantian menunggui si kecil dengan istri dan adik-adiknya. Namun lagi-lagi gaungan itu kembali bergema di telingaku….

“ Pak….mak….akit…..”

“ Aan mo pulang…..hik…hik… pak…pulang…”

Oh tidak! Kini gaungan itu semakin ramai dengan suara-suara lainnya, .menenggelamkan suara malaikat kecilku yang semakin lemah itu, semakin hilang…

“Mat, gw denger anak lo masuk rumah sakit. Sakit apaan?”

“Iya Pan., DBD.” topan adalah teman sepermainanku sejak kecil. Tapi nasib kami ternyata begitu berbeda. Bahkan sekarang kudengar ia sudah jadi caleg sebuah partai besar. Sedangkan aku, harus puas dengan pengahasilan pas-pasan, hanya untuk makan sekeluarga.

“Trus lo ada duit?”“ ada dikit Pan, tapi mungkin cuma untuk tiga hari ini aja” ingatanku kembali melayang ke kamar berdinding putih berseprei dekil and sumpek.

“Mau gw Bantu?” Topan menghisap rokoknya dalam – dalam.

“Bener Pan? makasih banyak…Pan!”

“Ya udah, ntar malem lo ke rumah gw.”

Dialogpun berakhir. Aku tersenyum dengan penuh terima kasih. Terbayang langsung di benakku, Aan. Aku akan membawa malaikat kecil itu ke rumah sakit di kota.

Sementara itu Topan memandangi punggung Mamat yang semakin menjauh dengan senyum penuh arti.

 

………………….

 

Mataku terasa sangat lelah, namun belum juga mampu kupejamkan. Peristiwa tadi malam kembali membekas di benakku. Semalam, aku  mendatangi rumah istana desa itu dengan membawa harapanku, kepada Topan.

Tak lama setelah mengetuk pintu, lelaki setengah baya yang amat akrab di masa kecilku itu keluar menemuiku. Amplop putih tergenggam di tangannya yang beberapa menit kemudian telah berpindah ke tangan kasarku. Maklum, aku bekerja sebagai kuli bangunan, makanya tangan-tanganku jadi kapalan dan kasar.

“Itu uang buat lu, sisanya lu bisa beli apa aja juga masih lebih.”

“Terima kasih Pan, kalau lu nggak membantu, aku nggak tahu lagi harus berbuat apa.”

“Sudahlah mat, gw Bantu lo apa aja..tapi lu jg bantu gw..”

“Bantu apa Pan?” bingung dan heran. Bantuan apa yang diharapkan orang kaya sepertinya dari orang miskin sepertiku?

“Gw Cuma minta suara lu sekeluarga aja kok, gampang kan?”

“Suara? Maksudnya?” Aku mulai bingung.

“Ha..ha.. mat, Lu jangan belagak nggak ngerti. saya Cuma minta suara kamu sekeluarga aja, elo, Istri, ibu bapak, dan adik-adik lu pas pemilihan nanti, gampang kan?”

Amplop putih dalam genggamanku seakan berubah menjadi bara api. Panas. Bagaimana mungkin desa ini akan di pimpin oleh orang yang mendewakan uang seperti Topan? Orang yang kerap kali justru membawa sumber maksiat? Yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta? Suara? Kami memang tak memiliki harta untuk membangun desa ini. Jangankan memberi orang lain, untuk makan sehari – haripun terkadang susah.. hanya suara itu yang kami punya untuk disumbangkan untuk desa ini.tapi sekarang…akankah kuserahkan harta kami satu – satunya  itu?

Kuangsurkan kembali amplop itu. Tanganku terasa bergetar.

“Sudahlah mat…gw tahu lu sangat butuh itu. Gw kan teman lu Mat. Pokoknya begitu gw kepilih, hidup lu akan baik Mat. Lu nggak usah nguli lagi, nanti gw kasih kerjaan. Gimana? “

“Tapi…Pan…” Aku ingin berontak! Tapi suaraku tersekat di tenggorokan. Tatapan Topan terasa semakin menghujamku, merongrong dinding hatiku.

“ Hm.. ok, begini saja, lu bawa saja dulu uang itu, sambil memikirkan tawaran gw tadi”

Aku mematung terdiam. Sosok sinar harapan di depanku tadi telah menjelma menjadi sosok srigala yang siap memangsa, lalu berubah lagi menjadi harapan – harapanku, demikian seterusnya. Aku tak bisa berkata-kata, kecuali tetap memegang amplop putih itu.

“Pesanku Cuma satu, ingat anak dan istri lu Mat, istri mana sih Mat yang nggak pengen hidup senang? Dengan anak yang sehat, hidup berkecukupan.. ingat, Ok?” Topan menepuk bahuku. Ingin rasanya aku menepiskan dan mematahkan tangan itu, tapi lagi – lagi tanganku tak bisa bergerak. Semua terasa berputar di kepalaku.

Anakku…uang itu….suara merdu istriku…anakku lagi…? terbayang di khayalnya sosok lincah anaknya yang bergembira ketika dibawakan mainan setiap minggu, atau bahkan setiap hari. Makanan enak. Tapi…semua kembali berputar-putar. Mengantar lelaki itu ke negeri mimpi. Pulas.

 

***********

 

Senja mulai menutup tirai siang. Dengan tergesa – gesa kujejakkan langkah di depan bangunan putih itu. Sesekali tanganku reflek merogoh kantong jaket, memastikan apakah amplop putih itu masih ada di sana. Tadi, beberapa saat setelah tertidur, pak Martoyo, lelaki separuh baya yang sudah belasan tahun menjadi tetanggaku itu membangunkanku.

Lastri, Istri yang baru beberapa tahun lalu kunikahi menelphon dan mengabarkan Anugrah, belahan hati kami bertambah parah dan lemah. Sedangkan pihak Rumah sakit tidak juga menangani karena resep-resep yang belum tertebus.

“ Mas… anak kita mas.. Anugrah…!” Tangis Lastri, perempuan yang kucintai itu menyongsong langkahku di depan kamar rumah sakit.

“Tenang dek, tenang… mas bawa uang banyak.. kita akan tebus resepnya. Mana resepnya dek?” Aku berusaha untuk melukiskan senyum di wajahku, sebelum akhirnya pudar ketika wanita yang biasanya tegar di hadapanku itu kini tertunduk lesu. Air mata menetes di pipinya.. Perasaan takut mulai menyelimutiku. Mungkinkah…?

“ A…a..ada a..pa dek?” tanyaku perlahan. Hatiku berusaha menepis semua prasangka buruk yang mulai meyelimuti hatiku.

Lastri tetap bungkam. Sepi sesaat, hanya hening mencekam, sampai akhirnya tangis perempuan itu meledak di pelukanku.

“Mas, anak kita telah pergi lima menit yang lalu…”

BUG!! Seakan ada palu tak terlihat memukul kepalaku. Lututku tak lagi bisa menyangga berat tubuhku. Kucoba mencari dinding untuk bersandar. Tanpa sadar tanganku dimasukkan ke dalam kantong jaket. Tanganku tampak menarik sesuatu dari kantong kumal itu. Amplop putih itu!

“Astaghfirullahal Adzhiim….” Desisnya terdengar lirih, sebelum semua terasa berputar. Gelap.

 

****end****

 

Depok, 21 Juni 2005 11.05pm

 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2011 in Amplop Penyesalan

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Cerpen – Dilema 3 Diary

DILEMA TIGA DIARY

by: maria ulfa azkahara

Jakarta, 12 Februari 2004

Diary Pink, di bawah mentari pagi..

Hi my diary.. heran ya karena nggak biasanya aku nemuin kamu pagi – pagi begini. Udah rapi lagi dengan setelan kaos pink kalem and jeans,plus dengan tentengan jaket almamater!! Emang mau kemana sih? Shopping ? atau mau JJS ke mall? oh, No! aku hari ini mau berangkat aksi dy. Kata temenku siPutri, jilbaber yang aktivis itu, hari ini akan ada aksi menentang ketidakadilan atas perlakuan hukum selama ini ry. Sebagai warga negara yang baik, kita jangan diam saja melihat ke… ke.. apa ya? Oh, kezhaliman dy! (itu kata si putri lho!)he..he…

Tapi kalau dipikir – pikir benar juga sih ry.., masa kemaren maling jemuran di komplek kostku aja kemaren babak belur di hajar massa, maling gede alias koruptor didiamin aja? It’s not fair! Mau jadi apa Indonesia yang akan datang dengan hutang akibat hutang para koruptor itu ? Lho, kok aku jadi ikut marah – marah sih? Ah, bodo amat! siapa peduli? Yang penting nampang bo! Kan katanya teman – temanku, para aktivis itu banyak yang charming lho! siapa tahu aja ketemu gebetan..he- he… itu tuh dy, Prince Charming, kamu nggak lupa kan sama some one yang aku ceritain kemarin? Cool banget dy! And aku dengar, dia tuh pasti turun kalau ada aksi – aksi gini. Udah dulu ya dy, teman – temanku udah manggil tuh! Atpi, don’t worry, kamu pasti akan kubawa. Ok? Let’s go…

Diary biru, di bawah sinar mentari yang sama…..

Assalamualaikum diary mungil, sambil nunggu temen- temen lainnya nyamperin aku mendingan aku nulisin kamu aja ya? Soalnya sholat dhuha udah, periksa barang-barang udah.. barang-barang?! Kamu pasti nanya mau kemana. Ya kan?. Hari ini aku akan dan teman – teman akan turun lagi ke jalan ry. Lho, kamu pasti tambah heran ya ry, karena tiap hari kan emang aku turun ke jalan, couse ke kampus emang jalan kaki.he..he…. Hm.. yang ini beda ry ( kayak Pemilu 2004 aja! He..he..). karena hari ini akan ada aksi besar-besaran bersama rekan – rekan mahasiswa ry.  Aksi kali ini akan menuntut dihukumnya seorang pejabat yang telah didakwa melakukan korupsi milyaran rupiah uang rakyat ry! . Aku sendiri heran ry, kok bisa ya orang bersenang-senang dengan uang yang seharusnya bisa memberi makan ribuan rakyat yang setiap harinya selalu bergelut dengan kemiskinan ya? Hm…ngomong – ngomong uang…coba ya uang kampanye – kampanye itu di beliin sembako, trus dibagikan ke seluruh rakyat ya…mungkin bisa kenyang setahun kali ya? Atau dibayarkan ke hutang  bangsa, daripada cuma buat bikin poster, dangdutan, atau hura – hura lainnya, apalgi buat dangdutan!.

Ry, kadang – kadang kalau aku merenung, terkadang ada kerinduan akan kekhalifahan di masa Umar bin Khatab di hatiku ry. Dia bahkan rela memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang lapar. Kamu ingat kan puisinya Faiz, bocah delapan tahun itu saja tahu dan menginginkan pemerintah bersikap seperti masa kekhalifahan sahabat Nabi ry. Tapi tampaknya di negaraku mungkin tak akan menjadi kenyataan pemerintahan yang seperti itu ry. Kekuasaan sering di salah gunakan untuk mencari kekayaan pribadi. Hukum hanyalah sebuah alat yang hanya dimiliki oleh orang – orang kaya. Palu hukum hanya bisa di ketukkan oleh orang yang berkuasa ry. Ah, negeriku yang malang… oh, udah dulu ya dy.. teman-temanku udah pada dateng tuh! Sekarang kamu masuk dulu ya ke tas…

 

Diary merah, masih disinari mentari yang sama……….

Hi.. kertas lecek … eh sorry, hi..diary…gini-gini ternyata gw  masih mau juga ya nulisin elo..! lo tau nggak? Hari ini gw la makmur nih! So, nanti gw mau nyari diary yang bagus. Ma tau ada apaan? Dari mana gw dapet uang? Ok..  gini ya… kemaren ada mas – mas kira-kira sepuluh tahun lebih tua dari gw, kalau ga salah namanya… hm..siapa ya? Kok gw jadi lupaan gini ya? Ah, nggak peduli! Yang penting dia udah ngasih gw banyak money men! Dia bilang gw cukup ngerjain satu tugas kecil. Ciiii.l lah…! Ntar ya, kalau gw sukses gw kasih tau elo. Sekarang gw mau nyiapin kostum dan peralatan yang mau gw pake hari ini dulu ya… tenang aja, lo pasti gw bawa di tas gw… ok? Ha…ha…..

Tiga diary dibawa ke tempat yang sama, waktu yang sama,  Melangkah Bersama, searah, namun berbeda tujuan…

Jalan Merdeka, siang terik…..

Panas semakin menyengat kulit. Ikut membakar suasana di depan gedung megah itu. Semakin lama, sekelompok manusia yang tadi berkumpul berubah menjadi lautan massa dari berbagai latar belakang. Sebuah wajah oval terbalut kerudung biru tampak tergurat lelah yang amat sangat. Namun, semangat tetap terpancar di matanya yang bening dan teduh. Sejak tadi pagi kesibukan tak henti-hentinya menguasainya. Menertibkan agar barisan itu tetap kokoh, membagikan konsumsi, meng….

“Mbak Putri, ada yang pingsan nih…..!” sebuah suara membuat gadis yang bernama Putri itu berpaling dan mengikuti gadis sebaya yang memanggilnya tadi. Tak lama kemudian tubuh gadis itu tampak menyibak barisan, menggotong  tubuh yang terbalut kaos pink kalem dan celana jeans yang pingsan ke luar lapangan.

****************

Mentari mulai menurunkan temperature suhunya. Kesibukan masih terlihat di jalan itu. Gadis yang bernama putri itu masih sibuk dengan tugasnya. Sedangkan gadis yang tadi sempat digotong ke luar lapangan tadi sudah kembali ke barisannya. Sesosok tubuh tampak beringsut perlahan ke barisan terdepan dengan menggunakan atribut yang persis sama dengan lautan manusia tersebut. Tak ada yang curiga. Hingga…

“BRAKKK…!! BRUKKKK….!!

Suara benturan dengan sesuatu yang keras mengagetkan semua yang ada di jalan yang disulap seperti lapangan tersebut. Sesuatu telah terjadi. Barisan terdepan mulai kocar-kacir. Mendadak benda – benda berterbangan menghujam barisan Putri yang ada di dalam lapisan barisan. Dalam sekejap…. Massa yang tadi tersusun rapi tercerai berai.

“Mundurkan yang putri…kuatkan border…” Ivan, salah satu korlap siang itu berteriak ke sana – sini.

Sementara itu, jerit para demonstran putri mulai terdengar. Lafaz Istighfar terdengar lirih.Terlebih ketika para aparat mulai beramai-ramai memukuli barisan border yang memagari mereka. Aneka benda masih berterbangan. Entah dari mana. kacau.

Darah membanjiri bumi. Korban berjatuhan. Entah apa yang menguasai orang-orang yang tadi menjadi pelindung bagi para demonstran itu. Kebencian tersirat di setiap wajah yang masih memukuli sosok-sosok yang telah bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya di hadapannya. Sungguh tak berperikemanusiaan!

Sementara itu Gadis semampai tadi semakin tampak sibuk menenangkan rekan-rekannya. Jilbab birunya sudah tak beraturan.

Lafaz istighfar tak henti-hentinya mengalir, termasuk dari wajah pucat gadis yang tadi sempat pingsan. Isak tangis terdengar di sana – sini. Barisan pelindung mulai menipis dan berjatuhan, hingga akhirnya tinggal satu lapis barisan yang masih berusaha keras melindungi barisan yang ada di dalamnya. Tiba-tiba sebuah benda keras meluncur….

PRANGGG!! CRASSS…!

Darah mengalir membasahi kerudung gadis itu. Kain berwarna biru itu sekejap berubah warna. Merah….

*****************

 

Masih disana, menjelang senja…..

Sekelompok yang merupakan bagian barisan yang beberapa saat lalu berdiri di jalan itu masih membereskan sisa –sisa yang tertinggal. Beberapa pasang sepatu, bendera, tas, dan beberapa benda lainnya. Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan benda-benda yang dapat dijadikan identitas. Beberapa lembar KTM dan KTP, Buku, dan…..tiga buah diary tergenggam di tangan salah satunya. Bercak merah menempel pada ketiganya. Menjadi saksi pembantaian hukum di negeri itu. Mendung membayangi sore dua belas Februari. Kelabu..

Depok, 13 February 2004

 
 

Tags: , , , , , , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.